Apa perbedaan antara Order Book DEX dan AMM? Panduan untuk memahami dua model perdagangan on-chain

Terakhir Diperbarui 2026-05-09 06:54:04
Waktu Membaca: 6m
Order Book DEX dan AMM sama-sama banyak dimanfaatkan untuk perdagangan aset on-chain, tetapi keduanya memiliki perbedaan besar dalam penemuan harga, struktur likuiditas, dan eksekusi perdagangan. Order Book DEX memfasilitasi perdagangan dengan mencocokkan order yang diposting oleh pembeli dan penjual, sedangkan AMM menggunakan pool likuiditas serta algoritma untuk menentukan harga secara otomatis.

Bursa terdesentralisasi (DEX) merupakan infrastruktur utama dalam ekosistem DeFi, memungkinkan perdagangan aset on-chain tanpa kustodian terpusat. Seiring berkembangnya jaringan blockchain, model perdagangan DEX berevolusi menjadi beberapa struktur, dengan Order Book dan Automated Market Maker (AMM) sebagai dua model paling dominan.

Pada awal DeFi, keterbatasan performa on-chain dan likuiditas menyulitkan penerapan model order book tradisional di blockchain. Hadirnya AMM menurunkan hambatan untuk menjadi liquidity provider, sehingga pengguna dapat berpartisipasi di pasar tanpa keahlian market making profesional, yang mempercepat pertumbuhan perdagangan on-chain.

Order Book DEX vs AMM

Apa Itu Order Book DEX?

Order Book DEX adalah model perdagangan terdesentralisasi yang mencocokkan transaksi melalui order beli dan jual yang diajukan pengguna. Trader dapat menentukan harga bid atau ask sendiri, dan sistem akan mencocokkan order berdasarkan prioritas harga dan waktu.

Model ini sangat mirip dengan pasar keuangan tradisional dan bursa terpusat, sehingga lebih mudah dipahami oleh trader profesional. Order book menyediakan kedalaman pasar real-time, harga bid dan ask, serta volume order sehingga trader dapat menyesuaikan strategi sesuai kondisi pasar.

Secara on-chain, Order Book DEX memerlukan infrastruktur yang kuat, karena pembaruan order dan pencocokan terjadi jauh lebih sering dibandingkan skenario spot swap biasa. Untuk mengurangi latensi dan meningkatkan throughput, beberapa protokol mengadopsi model hybrid yang menggabungkan order book off-chain dengan settlement on-chain.

Apa Itu AMM?

Automated Market Maker (AMM) adalah model perdagangan yang menggunakan pool likuiditas dan algoritma untuk menentukan harga aset secara otomatis. Tidak seperti order book, AMM tidak bergantung pada order beli dan jual dari pengguna; harga disesuaikan secara dinamis melalui rumus matematis.

Pada AMM, pengguna dapat menyetor aset ke pool likuiditas sebagai Liquidity Provider (LP), sementara pengguna lain berdagang langsung dengan pool tersebut. Harga aset akan otomatis berubah mengikuti rasio aset dalam pool.

AMM secara signifikan menurunkan hambatan market making dan memungkinkan perdagangan terdesentralisasi tanpa ketergantungan pada market maker profesional. Karena itu, AMM diakui sebagai pendorong utama pertumbuhan pesat DeFi.

Namun, karena harga AMM bergantung pada rasio aset pool, volatilitas tinggi atau transaksi besar dapat menyebabkan slippage yang besar.

Apa Perbedaan Utama antara Order Book DEX dan AMM?

Perbedaan utama antara Order Book DEX dan AMM terletak pada sumber likuiditas dan cara pembentukan harga.

Order Book DEX bergantung pada trader yang aktif menempatkan order, dengan harga yang terbentuk langsung dari aktivitas pasar—mirip dengan price discovery tradisional. Sebaliknya, harga AMM ditentukan otomatis oleh algoritma dan rasio aset dalam pool likuiditas.

Dari sisi pengguna, order book menawarkan kontrol order yang lebih detail—seperti limit order, stop-loss order, dan tampilan pasar mendalam—sementara AMM berfokus pada swap instan dan operasi yang sederhana.

Struktur likuiditas kedua model juga berbeda. AMM sangat cocok untuk aset long-tail dan pasar berlikuiditas rendah, sedangkan order book biasanya memerlukan lingkungan perdagangan aktif dan market making frekuensi tinggi.

Bagaimana Perbedaan Struktur Likuiditas antara Order Book DEX dan AMM?

Likuiditas AMM terutama berasal dari pool likuiditas yang diisi pengguna. Siapa saja dapat menambahkan aset ke pool dan mendapatkan keuntungan dari biaya perdagangan, sehingga menurunkan hambatan market making dan memudahkan listing aset baru.

Sebaliknya, likuiditas pada Order Book DEX umumnya berasal dari market maker profesional atau trader frekuensi tinggi. Menjaga kedalaman pasar memerlukan penempatan order secara terus-menerus, sehingga tingkat aktivitas likuiditasnya lebih tinggi.

Saat likuiditas pasar lemah, order book dapat mengalami spread bid-ask yang lebar dan kedalaman pasar yang dangkal, sedangkan AMM dapat mempertahankan perdagangan dasar melalui pool likuiditas. Namun, transaksi besar di AMM lebih rentan terhadap slippage besar akibat perubahan rasio aset.

Mengapa Pasar Perpetual Futures Lebih Sering Menggunakan Order Book?

Pasar perpetual futures umumnya menawarkan leverage tinggi, frekuensi perdagangan tinggi, dan pergerakan harga yang cepat, sehingga membutuhkan price discovery yang presisi dan manajemen risiko yang solid.

Model order book memberikan kontrol order yang lebih detail dan slippage yang lebih rendah dibandingkan AMM, sehingga lebih cocok untuk perdagangan derivatif profesional. Selain itu, pasar perpetual futures biasanya mengandalkan funding rate, risk engine, dan sistem margin kompleks, yang semuanya lebih mudah diintegrasikan dengan arsitektur order book.

Karena alasan tersebut, banyak protokol derivatif on-chain—termasuk dYdX—lebih memilih struktur order book daripada AMM tradisional.

Apa Saja Skenario Aplikasi Order Book DEX dan AMM?

AMM sangat unggul untuk spot swap, perdagangan aset long-tail, dan penyediaan likuiditas dengan hambatan rendah. Karena tidak memerlukan market maker profesional, AMM dapat dengan cepat membangun pasar on-chain dan banyak diadopsi pada tahap awal DeFi.

Order Book DEX sangat ideal untuk pasar dengan likuiditas tinggi, perdagangan frekuensi tinggi, dan produk kompleks seperti perpetual futures. Untuk trader profesional, struktur order book memberikan pengalaman yang sangat mirip dengan pasar keuangan tradisional.

Saat ini, belum ada model perdagangan tunggal yang cocok untuk semua kebutuhan di DeFi; setiap protokol memilih arsitektur sesuai targetnya. Oleh karena itu, Order Book DEX dan AMM berfungsi sebagai infrastruktur saling melengkapi sesuai kebutuhan pasar yang berbeda.

Tabel Perbandingan Order Book DEX vs AMM

Dimensi Perbandingan Order Book DEX AMM
Metode Perdagangan Order Matching Swap Pool Likuiditas
Pembentukan Harga Berdasarkan Pasar Harga Algoritmik
Sumber Likuiditas Market Maker dan Penempat Order Liquidity Provider
Kinerja Slippage Umumnya Lebih Rendah Dapat Tinggi untuk Transaksi Besar
Dukungan Perdagangan Frekuensi Tinggi Kuat Terbatas
Kompatibilitas Perpetual Futures Tinggi Rendah
Ambang Batas Pengguna Lebih Tinggi Lebih Rendah
Skenario Umum Derivatif, Perdagangan Frekuensi Tinggi Spot Swap, Aset Long-Tail

Ringkasan

Order Book DEX dan AMM adalah dua model perdagangan utama dalam DeFi. AMM telah menurunkan ambang batas untuk perdagangan terdesentralisasi dan mendorong ekspansi awal DeFi, sedangkan Order Book DEX menghadirkan struktur perdagangan lanjutan untuk mendukung perpetual futures dan perdagangan frekuensi tinggi.

Seiring berkembangnya keuangan on-chain, kedua model ini semakin terintegrasi dan dioptimalkan. Beberapa protokol bereksperimen dengan sistem pencocokan hybrid, sementara yang lain meningkatkan performa order book melalui application chain dan infrastruktur berkecepatan tinggi. Ke depannya, DeFi kemungkinan akan menampilkan beragam infrastruktur perdagangan yang disesuaikan dengan berbagai aset dan use case, bukan hanya satu model.

FAQ

Mengapa AMM Penting dalam DeFi?

AMM menurunkan hambatan market making, memungkinkan pengguna berdagang dan menyediakan likuiditas on-chain tanpa market maker profesional.

Mengapa Perpetual Futures Lebih Umum Diperdagangkan dengan Order Book?

Order book lebih sesuai untuk perdagangan frekuensi tinggi, slippage rendah, dan manajemen risiko yang kompleks.

Apa Risiko AMM?

AMM dapat mengalami slippage, impermanent loss, dan kekurangan likuiditas.

Model Perdagangan Apa yang Digunakan dYdX?

dYdX terutama menggunakan model order book, bukan struktur pool likuiditas AMM tradisional.

Penulis: Jayne
Penerjemah: Jared
Pernyataan Formal
* Informasi ini tidak bermaksud untuk menjadi dan bukan merupakan nasihat keuangan atau rekomendasi lain apa pun yang ditawarkan atau didukung oleh Gate.
* Artikel ini tidak boleh di reproduksi, di kirim, atau disalin tanpa referensi Gate. Pelanggaran adalah pelanggaran Undang-Undang Hak Cipta dan dapat dikenakan tindakan hukum.

Artikel Terkait

Tinjauan Mendalam Tokenomik stETH: Cara Lido Mendistribusikan Keuntungan Stake dan Mengakumulasi Nilai
Pemula

Tinjauan Mendalam Tokenomik stETH: Cara Lido Mendistribusikan Keuntungan Stake dan Mengakumulasi Nilai

stETH merupakan token staking likuid yang diterbitkan oleh Lido DAO (LDO). Token ini merepresentasikan aset ETH yang di-stake oleh pengguna beserta keuntungan staking yang dihasilkan di jaringan Ethereum, dan memungkinkan pengguna tetap dapat memanfaatkan aset mereka dalam ekosistem DeFi selama masa staking. Kerangka kerja tokenomik Lido DAO didasarkan pada dua aset utama: stETH dan LDO. stETH berfungsi utama untuk menangkap keuntungan staking dan menyediakan likuiditas, sedangkan LDO berperan dalam tata kelola protokol serta pengaturan parameter kunci. Kedua aset ini bersama-sama membentuk model dua token pada protokol staking likuid.
2026-04-03 13:38:51
Bagaimana sistem tata kelola Lido DAO berjalan? Penjelasan mengenai peran token LDO
Pemula

Bagaimana sistem tata kelola Lido DAO berjalan? Penjelasan mengenai peran token LDO

Lido DAO (LDO) merupakan organisasi otonom terdesentralisasi yang bertanggung jawab atas pengelolaan protokol liquid staking Lido. Para holder token LDO memiliki hak suara dalam penentuan parameter protokol, strategi operasi node, serta arah pengembangan ekosistem secara keseluruhan. Sebagai infrastruktur utama di sektor liquid staking, mekanisme tata kelola Lido DAO secara langsung memengaruhi keamanan protokol, struktur keuntungan, dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
2026-04-03 13:37:36
Tokenomika Falcon Finance: Penjelasan Mekanisme Penangkapan Nilai FF
Pemula

Tokenomika Falcon Finance: Penjelasan Mekanisme Penangkapan Nilai FF

Falcon Finance merupakan protokol agunan universal DeFi multi-chain. Artikel ini membahas penangkapan nilai token FF, metrik utama, serta roadmap 2026 untuk mengevaluasi potensi pertumbuhan di masa mendatang.
2026-03-25 09:49:41
Falcon Finance vs Ethena: Perbandingan Mendalam Lanskap Stablecoin Sintetis
Pemula

Falcon Finance vs Ethena: Perbandingan Mendalam Lanskap Stablecoin Sintetis

Falcon Finance dan Ethena adalah proyek utama di sektor stablecoin sintetis, mewakili dua pendekatan utama bagi masa depan stablecoin sintetis. Artikel ini mengulas perbedaan desain keduanya dalam mekanisme imbal hasil, struktur agunan, dan pengelolaan risiko, guna membantu Anda memahami peluang serta tren jangka panjang di ekosistem stablecoin sintetis.
2026-03-25 08:13:54
Risiko apa saja yang terkait dengan Smart Leverage?
Pemula

Risiko apa saja yang terkait dengan Smart Leverage?

Smart Leverage menghilangkan kebutuhan margin dan meniadakan risiko likuidasi, namun hal ini tidak berarti tanpa risiko. Risiko utama berasal dari ketidakpastian keuntungan yang melekat pada mekanisme leverage dinamis, serta potensi erosi keuntungan saat volatilitas pasar, ketergantungan pada jalur pergerakan harga, dan kondisi pasar yang mendatar atau bergejolak. Dalam situasi pasar ekstrem, Nilai Aktiva Bersih (NAB) tetap dapat mengalami fluktuasi signifikan, dan keterbatasan pengguna dalam mengendalikan leverage semakin membatasi fleksibilitas strategi. Pada akhirnya, Smart Leverage tidak mengurangi risiko, melainkan merestrukturisasi risiko. Fitur ini paling tepat digunakan secara strategis oleh mereka yang benar-benar memahami mekanisme dasarnya.
2026-04-08 03:18:03
Apa Perbedaan Inti Antara Solana (SOL) dan Ethereum? Perbandingan Arsitektur Blockchain Publik
Menengah

Apa Perbedaan Inti Antara Solana (SOL) dan Ethereum? Perbandingan Arsitektur Blockchain Publik

Artikel ini membahas perbedaan utama antara Solana (SOL) dan Ethereum, meliputi desain arsitektur, mekanisme konsensus, strategi skalabilitas, serta struktur node, sehingga menghadirkan kerangka kerja yang jelas dan praktis untuk membandingkan blockchain publik.
2026-03-24 11:58:38