Perusahaan infrastruktur raksasa Malaysia, Gamuda, milik taipan Lin Yun Ling, sedang melakukan langkah agresif ke sektor energi terbarukan, memanfaatkan peluang strategis: pertumbuhan pesat pusat data di seluruh Asia Tenggara. Perusahaan baru saja mengamankan dua proyek tenaga surya besar yang menegaskan baik skala ekspansi ini maupun kebutuhan mendesak akan energi berkelanjutan untuk menggerakkan fasilitas komputasi hyperscale di kawasan tersebut.
Skala Ambisi Surya Gamuda
Angka-angka menceritakan kisah yang menarik. Dalam pengumuman berturut-turut bulan ini, Gamuda mengamankan kontrak untuk instalasi tenaga surya dengan total kapasitas 2,7 gigawatt. Analis industri memperkirakan biaya konstruksi gabungan untuk kedua proyek ini akan mencapai sekitar 5,4 miliar ringgit, sekitar $1,3 miliar—investasi signifikan yang mencerminkan kepercayaan perusahaan terhadap peluang energi terbarukan.
Proyek pertama merupakan kemitraan antara Gamuda dan Gentari Renewables yang didukung Petronas, sebuah kolaborasi yang menargetkan ladang surya sebesar 1,5 gigawatt. Tidak jauh berbeda, Gamuda bekerja sama dengan operator perkebunan SD Guthrie untuk mengembangkan fasilitas sebesar 1,2 gigawatt. Kedua proyek ini secara eksplisit dirancang untuk melayani operator pusat data yang ingin mengurangi jejak karbon mereka sekaligus memenuhi permintaan yang meningkat untuk kekuatan komputasi.
Mengapa Malaysia Menjadi Magnet Pusat Data
Urgensi di balik proyek energi terbarukan ini berasal dari munculnya Malaysia sebagai salah satu pusat data utama Asia Pasifik. Pemimpin teknologi global—Alibaba, Google, dan Microsoft di antaranya—telah membangun infrastruktur cloud computing dan AI yang besar di negara ini, mengubah ekonomi digital Malaysia dan menciptakan nafsu tak terpuaskan untuk energi bersih dan andal.
Tren ini secara langsung menguntungkan Gamuda, yang telah mengumpulkan kontrak konstruksi terkait Google sebesar 2,7 miliar ringgit ($642 juta). Divisi energi terbarukan perusahaan, yang dipimpin oleh Joshua Kong Sing Hoe, memposisikan dirinya sebagai tulang punggung infrastruktur penting yang memungkinkan pusat data ini beroperasi secara berkelanjutan.
Membangun Rantai Pasok Berkelanjutan
Strateginya jelas: seiring dengan percepatan ekspansi pusat data di seluruh Malaysia, operator membutuhkan sumber energi terbarukan yang khusus. Kepala energi terbarukan Gentari, Low Kian Min, menekankan hubungan ini: “Ekonomi digital Malaysia berkembang pesat, membawa permintaan yang meningkat untuk tenaga yang andal dan berkelanjutan.” Proyek tenaga surya Gamuda dirancang agar dapat diskalakan dan khusus, memastikan klien pusat data memiliki pasokan listrik hijau yang dapat diprediksi.
Dari Konstruksi Menjadi Pemimpin Infrastruktur
Evolusi Gamuda menjadi perusahaan energi terbarukan mencerminkan transformasi yang lebih luas sejak didirikan pada tahun 1976 oleh Lin Yun Ling dan mitra bisnisnya, Koon Yew Yin. Awalnya sebagai perusahaan konstruksi, kini perusahaan ini telah berkembang menjadi pengembang infrastruktur dan properti terintegrasi terkemuka di Malaysia, dengan operasi di Australia, Singapura, Taiwan, Inggris, dan Vietnam. Pivot ke energi terbarukan ini merupakan kelanjutan alami dari strategi diversifikasi tersebut.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Portofolio Energi Terbarukan Gamuda Meluas Lebih dari $1 Miliar karena Pusat Data Mendorong Permintaan Energi Hijau di Malaysia
Perusahaan infrastruktur raksasa Malaysia, Gamuda, milik taipan Lin Yun Ling, sedang melakukan langkah agresif ke sektor energi terbarukan, memanfaatkan peluang strategis: pertumbuhan pesat pusat data di seluruh Asia Tenggara. Perusahaan baru saja mengamankan dua proyek tenaga surya besar yang menegaskan baik skala ekspansi ini maupun kebutuhan mendesak akan energi berkelanjutan untuk menggerakkan fasilitas komputasi hyperscale di kawasan tersebut.
Skala Ambisi Surya Gamuda
Angka-angka menceritakan kisah yang menarik. Dalam pengumuman berturut-turut bulan ini, Gamuda mengamankan kontrak untuk instalasi tenaga surya dengan total kapasitas 2,7 gigawatt. Analis industri memperkirakan biaya konstruksi gabungan untuk kedua proyek ini akan mencapai sekitar 5,4 miliar ringgit, sekitar $1,3 miliar—investasi signifikan yang mencerminkan kepercayaan perusahaan terhadap peluang energi terbarukan.
Proyek pertama merupakan kemitraan antara Gamuda dan Gentari Renewables yang didukung Petronas, sebuah kolaborasi yang menargetkan ladang surya sebesar 1,5 gigawatt. Tidak jauh berbeda, Gamuda bekerja sama dengan operator perkebunan SD Guthrie untuk mengembangkan fasilitas sebesar 1,2 gigawatt. Kedua proyek ini secara eksplisit dirancang untuk melayani operator pusat data yang ingin mengurangi jejak karbon mereka sekaligus memenuhi permintaan yang meningkat untuk kekuatan komputasi.
Mengapa Malaysia Menjadi Magnet Pusat Data
Urgensi di balik proyek energi terbarukan ini berasal dari munculnya Malaysia sebagai salah satu pusat data utama Asia Pasifik. Pemimpin teknologi global—Alibaba, Google, dan Microsoft di antaranya—telah membangun infrastruktur cloud computing dan AI yang besar di negara ini, mengubah ekonomi digital Malaysia dan menciptakan nafsu tak terpuaskan untuk energi bersih dan andal.
Tren ini secara langsung menguntungkan Gamuda, yang telah mengumpulkan kontrak konstruksi terkait Google sebesar 2,7 miliar ringgit ($642 juta). Divisi energi terbarukan perusahaan, yang dipimpin oleh Joshua Kong Sing Hoe, memposisikan dirinya sebagai tulang punggung infrastruktur penting yang memungkinkan pusat data ini beroperasi secara berkelanjutan.
Membangun Rantai Pasok Berkelanjutan
Strateginya jelas: seiring dengan percepatan ekspansi pusat data di seluruh Malaysia, operator membutuhkan sumber energi terbarukan yang khusus. Kepala energi terbarukan Gentari, Low Kian Min, menekankan hubungan ini: “Ekonomi digital Malaysia berkembang pesat, membawa permintaan yang meningkat untuk tenaga yang andal dan berkelanjutan.” Proyek tenaga surya Gamuda dirancang agar dapat diskalakan dan khusus, memastikan klien pusat data memiliki pasokan listrik hijau yang dapat diprediksi.
Dari Konstruksi Menjadi Pemimpin Infrastruktur
Evolusi Gamuda menjadi perusahaan energi terbarukan mencerminkan transformasi yang lebih luas sejak didirikan pada tahun 1976 oleh Lin Yun Ling dan mitra bisnisnya, Koon Yew Yin. Awalnya sebagai perusahaan konstruksi, kini perusahaan ini telah berkembang menjadi pengembang infrastruktur dan properti terintegrasi terkemuka di Malaysia, dengan operasi di Australia, Singapura, Taiwan, Inggris, dan Vietnam. Pivot ke energi terbarukan ini merupakan kelanjutan alami dari strategi diversifikasi tersebut.