Harga tembaga telah mengalami pergerakan naik yang signifikan dan menembus batas psikologis sebesar 13.000 dolar AS per ton. Dengan kenaikan lebih dari empat persen, pasar komoditas menunjukkan meningkatnya ketegangan dalam pasokan global. Beberapa faktor sekaligus berperan sebagai pendorong harga.
Konflik kerja di Tambang Mantoverde sebagai faktor penawaran
Perjuangan kerja saat ini di Tambang Mantoverde di Chili memicu diskusi baru tentang kekurangan pasokan. Meskipun fasilitas produksi ini menyumbang kurang dari 0,5 persen dari pasokan global, serikat pekerja mengisyaratkan bahwa pemogokan berpotensi berlangsung lebih dari dua bulan, didukung oleh cadangan keuangan yang cukup besar. Pengelola tambang berharap, dengan karyawan yang tidak ikut mogok, sekitar 30 persen dari produksi reguler dapat dilanjutkan.
Selain jumlah produksi yang hilang, konflik ini juga dipandang sebagai sinyal peringatan. Analis komoditas Barbara Lambrecht dari Commerzbank mengamati bahwa harga yang tinggi secara signifikan memperburuk ketegangan antara perusahaan pertambangan dan pekerjanya — dengan risiko bahwa konflik serupa dapat terjadi di lokasi tambang lain.
Kebijakan tarif AS sebagai faktor ketidakpastian di pasar tembaga
Faktor kedua yang mempengaruhi harga berasal dari kekhawatiran yang meningkat terhadap kemungkinan tarif Amerika terhadap tembaga yang diproses. Setelah tarif tersebut awalnya dikecualikan tahun lalu, pemerintah AS mengisyaratkan akan melakukan penilaian ulang hingga akhir Juni.
Ketakutan terhadap tarif ini sudah mempengaruhi pasar berjangka: selama bulan-bulan musim panas, kekhawatiran tarif menyebabkan premi yang cukup besar di pasar COMEX New York dibandingkan dengan bursa logam London LME. Pada bulan Desember, selisih ini kembali meningkat secara signifikan. Meski premi terakhir kembali menurun, cadangan tembaga di COMEX terus bertambah — sebuah fenomena yang memperkuat kekhawatiran bahwa logam ini bisa menjadi sumber daya yang langka di luar pasar Amerika.
Kombinasi dari guncangan pasokan jangka pendek dan risiko tarif jangka panjang menempatkan pasar tembaga dalam fase volatilitas yang meningkat dan pergerakan harga ke atas.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kupfer kembali di atas batas 13.000 dolar – konflik kerja dan risiko bea cukai menghangatkan pasar
Harga tembaga telah mengalami pergerakan naik yang signifikan dan menembus batas psikologis sebesar 13.000 dolar AS per ton. Dengan kenaikan lebih dari empat persen, pasar komoditas menunjukkan meningkatnya ketegangan dalam pasokan global. Beberapa faktor sekaligus berperan sebagai pendorong harga.
Konflik kerja di Tambang Mantoverde sebagai faktor penawaran
Perjuangan kerja saat ini di Tambang Mantoverde di Chili memicu diskusi baru tentang kekurangan pasokan. Meskipun fasilitas produksi ini menyumbang kurang dari 0,5 persen dari pasokan global, serikat pekerja mengisyaratkan bahwa pemogokan berpotensi berlangsung lebih dari dua bulan, didukung oleh cadangan keuangan yang cukup besar. Pengelola tambang berharap, dengan karyawan yang tidak ikut mogok, sekitar 30 persen dari produksi reguler dapat dilanjutkan.
Selain jumlah produksi yang hilang, konflik ini juga dipandang sebagai sinyal peringatan. Analis komoditas Barbara Lambrecht dari Commerzbank mengamati bahwa harga yang tinggi secara signifikan memperburuk ketegangan antara perusahaan pertambangan dan pekerjanya — dengan risiko bahwa konflik serupa dapat terjadi di lokasi tambang lain.
Kebijakan tarif AS sebagai faktor ketidakpastian di pasar tembaga
Faktor kedua yang mempengaruhi harga berasal dari kekhawatiran yang meningkat terhadap kemungkinan tarif Amerika terhadap tembaga yang diproses. Setelah tarif tersebut awalnya dikecualikan tahun lalu, pemerintah AS mengisyaratkan akan melakukan penilaian ulang hingga akhir Juni.
Ketakutan terhadap tarif ini sudah mempengaruhi pasar berjangka: selama bulan-bulan musim panas, kekhawatiran tarif menyebabkan premi yang cukup besar di pasar COMEX New York dibandingkan dengan bursa logam London LME. Pada bulan Desember, selisih ini kembali meningkat secara signifikan. Meski premi terakhir kembali menurun, cadangan tembaga di COMEX terus bertambah — sebuah fenomena yang memperkuat kekhawatiran bahwa logam ini bisa menjadi sumber daya yang langka di luar pasar Amerika.
Kombinasi dari guncangan pasokan jangka pendek dan risiko tarif jangka panjang menempatkan pasar tembaga dalam fase volatilitas yang meningkat dan pergerakan harga ke atas.