9月18日, Amerika Serikat Federal Reserve mengumumkan penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin, ini adalah kali pertama sejak Maret 2020, dan juga memicu perhatian luas dari investor global. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa penurunan suku bunga tidak selalu menjadi sinyal kenaikan pasar saham — kuncinya terletak pada kondisi ekonomi di balik penurunan suku bunga.
Mengapa Dampak Penurunan Suku Bunga di AS Begitu Besar? Logika yang Perlu Diketahui Investor
Mengapa Federal Reserve AS harus menurunkan suku bunga? Secara kasat mata terlihat sebagai “pelonggaran kebijakan moneter”, namun secara esensial mencerminkan perubahan kondisi ekonomi.
Ketika tingkat pengangguran mulai meningkat, industri manufaktur menyusut, dan pertumbuhan ekonomi melemah, bank sentral akan memilih menurunkan suku bunga untuk merangsang pemulihan ekonomi. Sebagai contoh, dalam putaran penurunan suku bunga ini, tingkat pengangguran di AS dari 3,80% pada Maret 2024 terus meningkat hingga 4,30% pada Juli, dan PMI manufaktur ISM telah lima bulan berturut-turut berada di zona kontraksi. Data ini memicu mekanisme “peringatan resesi” dari Federal Reserve.
Namun ada satu pertanyaan: Penurunan suku bunga sendiri tidak menentukan naik turunnya pasar saham, melainkan prospek ekonomi yang menentukan.
Cermin Sejarah: Empat Kali Penurunan Suku Bunga, Empat Hasil Berbeda di Pasar Saham
Peneliti dari Goldman Sachs, Vickie Chang, menemukan bahwa sejak pertengahan 1980-an, Federal Reserve telah melakukan 10 kali penurunan suku bunga. Temuan utama adalah: Ketika penurunan suku bunga berhasil mencegah resesi, pasar saham naik; ketika resesi sulit dihindari, pasar saham turun.
2001-2002: Ledakan gelembung yang tidak bisa diselamatkan oleh penurunan suku bunga
Saat gelembung internet meledak, Federal Reserve dengan cepat menurunkan suku bunga, tetapi ekspektasi laba perusahaan runtuh, dan kepercayaan pasar hancur. Nasdaq turun dari 5048 poin ke 1114 poin, penurunan 78%; S&P 500 dari 1520 poin ke 777 poin, turun 49%. Kebijakan penurunan suku bunga ini tidak mampu mengatasi situasi tersebut.
2007-2008: Rasa tidak berdaya di tengah krisis keuangan
Ketika krisis subprime muncul, Federal Reserve melakukan penurunan suku bunga besar-besaran, tetapi resesi ekonomi, lonjakan pengangguran, dan pembekuan kredit tetap terjadi. S&P 500 jatuh dari 1565 poin ke 676 poin, penurunan 57%. Bahkan dengan suku bunga di nol, sulit untuk membalikkan keadaan secara cepat.
2019: Kemenangan penurunan suku bunga preventif
Federal Reserve melakukan penurunan suku bunga preventif karena melambatnya ekonomi global dan ketidakpastian perdagangan. Saat itu laba perusahaan stabil, industri teknologi berkembang pesat, dan negosiasi perdagangan AS-China menunjukkan kemajuan. Akibatnya, S&P 500 naik 29% sepanjang tahun, Nasdaq naik 35%, dan mencapai rekor tertinggi.
2020: Penanganan luar biasa di tengah pandemi
Pandemi memicu kepanikan pasar, dan S&P 500 sempat anjlok 34%. Federal Reserve mendadak menurunkan suku bunga ke nol dan meluncurkan pelonggaran kuantitatif, menyuntikkan likuiditas besar-besaran ke pasar. Perusahaan teknologi yang didukung digitalisasi melonjak, dan akhir tahun S&P 500 rebound ke 3756 poin, naik 16% sepanjang tahun; Nasdaq naik 44%.
Polanya sangat jelas: Penurunan suku bunga hanya akan mendorong pasar saham naik jika ekonomi memiliki harapan untuk pulih dan laba perusahaan stabil.
Bagaimana Prospek Dampak Penurunan Suku Bunga AS Tahun 2024 terhadap Pasar Saham?
Saat ini pasar umumnya memperkirakan ekonomi AS akan mengalami “soft landing” — menghindari resesi sekaligus mengendalikan inflasi. Tetapi ada sinyal peringatan yang perlu diperhatikan: risiko kenaikan biaya energi, sengketa tenaga kerja di pelabuhan, konflik geopolitik global, dan faktor ketidakstabilan lainnya.
Berdasarkan survei terbaru MLIVPulse, 60% responden optimis terhadap kinerja pasar saham AS di kuartal keempat, dan 59% investor lebih memilih pasar negara berkembang dibanding pasar maju. Ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap pemulihan ekonomi, tetapi juga melakukan diversifikasi aset.
Dalam Siklus Penurunan Suku Bunga, Siapa Pemenangnya? Industri mana yang Lebih Mudah Mendapat Manfaat?
Performa industri selama siklus penurunan suku bunga sangat bervariasi. Berdasarkan data selama 24 tahun terakhir:
Industri teknologi adalah pemenang terbesar. Suku bunga rendah meningkatkan nilai saat ini dari laba masa depan perusahaan teknologi, sekaligus menurunkan biaya pembiayaan, mendorong investasi R&D. Pada siklus penurunan suku bunga 2020, saham teknologi naik 50%; pada 2019, naik 25%.
Barang konsumsi non-esensial menunjukkan kinerja stabil. Penurunan suku bunga mendorong peningkatan pengeluaran konsumsi, dan orang lebih bersedia melakukan pembelian besar (rumah, mobil, elektronik konsumen). Setelah penurunan suku bunga 2020, naik 40%; pada 2019, naik 18%.
Industri kesehatan relatif stabil karena tidak terlalu dipengaruhi siklus ekonomi dan mendapatkan manfaat dari peningkatan konsumsi. Rata-rata selama empat siklus penurunan suku bunga terakhir, kenaikan berkisar 12-25%.
Industri keuangan menghadapi tantangan jangka pendek. Penurunan suku bunga menyebabkan margin bunga bersih bank menyempit, dan profitabilitas terganggu. Saat krisis keuangan 2007-2008, bahkan turun 40%. Tetapi seiring harapan pemulihan ekonomi meningkat, saham keuangan berpotensi kembali menguat.
Industri energi paling tidak stabil. Pemulihan ekonomi akan meningkatkan permintaan energi, tetapi fluktuasi harga minyak dan faktor geopolitik menimbulkan ketidakpastian besar. Contohnya, penurunan 5% pada 2020.
Berapa Banyak Kesempatan Penurunan Suku Bunga Lagi di Tahun 2024?
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, pada 30 September menyatakan bahwa Fed tidak terburu-buru menurunkan suku bunga secara cepat, dan kemungkinan akan menurunkan lagi dua kali tahun ini, total 50 basis poin. Ini berarti pada rapat kebijakan di November dan Desember, Fed mungkin masing-masing menurunkan suku bunga 25 basis poin.
Sisi Ganda Penurunan Suku Bunga: Keuntungan dan Risiko
Keuntungan penurunan suku bunga: biaya pinjaman menurun, konsumsi dan investasi meningkat, beban bunga bagi rumah tangga dan perusahaan yang berutang berkurang, dan likuiditas sistem keuangan membaik.
Risiko penurunan suku bunga: suku bunga rendah jangka panjang dapat memicu konsumsi dan investasi berlebihan, menyebabkan inflasi atau gelembung aset. Ketika gelembung pecah, utang berlebihan dari rumah tangga dan perusahaan dapat memicu krisis keuangan.
Pelajaran bagi investor: Dampak penurunan suku bunga di AS melibatkan prospek makroekonomi dan juga menentukan kinerja berbeda-beda di berbagai industri. Dalam siklus penurunan suku bunga, menilai apakah ekonomi benar-benar pulih jauh lebih penting daripada sekadar mengejar kenaikan harga saham — karena kenaikan yang didukung fundamental ekonomi adalah yang berkelanjutan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Penurunan suku bunga di AS telah tiba, apakah pasar saham akan naik atau turun? Empat kunci penting yang harus dibaca oleh investor
9月18日, Amerika Serikat Federal Reserve mengumumkan penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin, ini adalah kali pertama sejak Maret 2020, dan juga memicu perhatian luas dari investor global. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa penurunan suku bunga tidak selalu menjadi sinyal kenaikan pasar saham — kuncinya terletak pada kondisi ekonomi di balik penurunan suku bunga.
Mengapa Dampak Penurunan Suku Bunga di AS Begitu Besar? Logika yang Perlu Diketahui Investor
Mengapa Federal Reserve AS harus menurunkan suku bunga? Secara kasat mata terlihat sebagai “pelonggaran kebijakan moneter”, namun secara esensial mencerminkan perubahan kondisi ekonomi.
Ketika tingkat pengangguran mulai meningkat, industri manufaktur menyusut, dan pertumbuhan ekonomi melemah, bank sentral akan memilih menurunkan suku bunga untuk merangsang pemulihan ekonomi. Sebagai contoh, dalam putaran penurunan suku bunga ini, tingkat pengangguran di AS dari 3,80% pada Maret 2024 terus meningkat hingga 4,30% pada Juli, dan PMI manufaktur ISM telah lima bulan berturut-turut berada di zona kontraksi. Data ini memicu mekanisme “peringatan resesi” dari Federal Reserve.
Namun ada satu pertanyaan: Penurunan suku bunga sendiri tidak menentukan naik turunnya pasar saham, melainkan prospek ekonomi yang menentukan.
Cermin Sejarah: Empat Kali Penurunan Suku Bunga, Empat Hasil Berbeda di Pasar Saham
Peneliti dari Goldman Sachs, Vickie Chang, menemukan bahwa sejak pertengahan 1980-an, Federal Reserve telah melakukan 10 kali penurunan suku bunga. Temuan utama adalah: Ketika penurunan suku bunga berhasil mencegah resesi, pasar saham naik; ketika resesi sulit dihindari, pasar saham turun.
2001-2002: Ledakan gelembung yang tidak bisa diselamatkan oleh penurunan suku bunga
Saat gelembung internet meledak, Federal Reserve dengan cepat menurunkan suku bunga, tetapi ekspektasi laba perusahaan runtuh, dan kepercayaan pasar hancur. Nasdaq turun dari 5048 poin ke 1114 poin, penurunan 78%; S&P 500 dari 1520 poin ke 777 poin, turun 49%. Kebijakan penurunan suku bunga ini tidak mampu mengatasi situasi tersebut.
2007-2008: Rasa tidak berdaya di tengah krisis keuangan
Ketika krisis subprime muncul, Federal Reserve melakukan penurunan suku bunga besar-besaran, tetapi resesi ekonomi, lonjakan pengangguran, dan pembekuan kredit tetap terjadi. S&P 500 jatuh dari 1565 poin ke 676 poin, penurunan 57%. Bahkan dengan suku bunga di nol, sulit untuk membalikkan keadaan secara cepat.
2019: Kemenangan penurunan suku bunga preventif
Federal Reserve melakukan penurunan suku bunga preventif karena melambatnya ekonomi global dan ketidakpastian perdagangan. Saat itu laba perusahaan stabil, industri teknologi berkembang pesat, dan negosiasi perdagangan AS-China menunjukkan kemajuan. Akibatnya, S&P 500 naik 29% sepanjang tahun, Nasdaq naik 35%, dan mencapai rekor tertinggi.
2020: Penanganan luar biasa di tengah pandemi
Pandemi memicu kepanikan pasar, dan S&P 500 sempat anjlok 34%. Federal Reserve mendadak menurunkan suku bunga ke nol dan meluncurkan pelonggaran kuantitatif, menyuntikkan likuiditas besar-besaran ke pasar. Perusahaan teknologi yang didukung digitalisasi melonjak, dan akhir tahun S&P 500 rebound ke 3756 poin, naik 16% sepanjang tahun; Nasdaq naik 44%.
Polanya sangat jelas: Penurunan suku bunga hanya akan mendorong pasar saham naik jika ekonomi memiliki harapan untuk pulih dan laba perusahaan stabil.
Bagaimana Prospek Dampak Penurunan Suku Bunga AS Tahun 2024 terhadap Pasar Saham?
Saat ini pasar umumnya memperkirakan ekonomi AS akan mengalami “soft landing” — menghindari resesi sekaligus mengendalikan inflasi. Tetapi ada sinyal peringatan yang perlu diperhatikan: risiko kenaikan biaya energi, sengketa tenaga kerja di pelabuhan, konflik geopolitik global, dan faktor ketidakstabilan lainnya.
Berdasarkan survei terbaru MLIVPulse, 60% responden optimis terhadap kinerja pasar saham AS di kuartal keempat, dan 59% investor lebih memilih pasar negara berkembang dibanding pasar maju. Ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap pemulihan ekonomi, tetapi juga melakukan diversifikasi aset.
Dalam Siklus Penurunan Suku Bunga, Siapa Pemenangnya? Industri mana yang Lebih Mudah Mendapat Manfaat?
Performa industri selama siklus penurunan suku bunga sangat bervariasi. Berdasarkan data selama 24 tahun terakhir:
Industri teknologi adalah pemenang terbesar. Suku bunga rendah meningkatkan nilai saat ini dari laba masa depan perusahaan teknologi, sekaligus menurunkan biaya pembiayaan, mendorong investasi R&D. Pada siklus penurunan suku bunga 2020, saham teknologi naik 50%; pada 2019, naik 25%.
Barang konsumsi non-esensial menunjukkan kinerja stabil. Penurunan suku bunga mendorong peningkatan pengeluaran konsumsi, dan orang lebih bersedia melakukan pembelian besar (rumah, mobil, elektronik konsumen). Setelah penurunan suku bunga 2020, naik 40%; pada 2019, naik 18%.
Industri kesehatan relatif stabil karena tidak terlalu dipengaruhi siklus ekonomi dan mendapatkan manfaat dari peningkatan konsumsi. Rata-rata selama empat siklus penurunan suku bunga terakhir, kenaikan berkisar 12-25%.
Industri keuangan menghadapi tantangan jangka pendek. Penurunan suku bunga menyebabkan margin bunga bersih bank menyempit, dan profitabilitas terganggu. Saat krisis keuangan 2007-2008, bahkan turun 40%. Tetapi seiring harapan pemulihan ekonomi meningkat, saham keuangan berpotensi kembali menguat.
Industri energi paling tidak stabil. Pemulihan ekonomi akan meningkatkan permintaan energi, tetapi fluktuasi harga minyak dan faktor geopolitik menimbulkan ketidakpastian besar. Contohnya, penurunan 5% pada 2020.
Berapa Banyak Kesempatan Penurunan Suku Bunga Lagi di Tahun 2024?
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, pada 30 September menyatakan bahwa Fed tidak terburu-buru menurunkan suku bunga secara cepat, dan kemungkinan akan menurunkan lagi dua kali tahun ini, total 50 basis poin. Ini berarti pada rapat kebijakan di November dan Desember, Fed mungkin masing-masing menurunkan suku bunga 25 basis poin.
Sisi Ganda Penurunan Suku Bunga: Keuntungan dan Risiko
Keuntungan penurunan suku bunga: biaya pinjaman menurun, konsumsi dan investasi meningkat, beban bunga bagi rumah tangga dan perusahaan yang berutang berkurang, dan likuiditas sistem keuangan membaik.
Risiko penurunan suku bunga: suku bunga rendah jangka panjang dapat memicu konsumsi dan investasi berlebihan, menyebabkan inflasi atau gelembung aset. Ketika gelembung pecah, utang berlebihan dari rumah tangga dan perusahaan dapat memicu krisis keuangan.
Pelajaran bagi investor: Dampak penurunan suku bunga di AS melibatkan prospek makroekonomi dan juga menentukan kinerja berbeda-beda di berbagai industri. Dalam siklus penurunan suku bunga, menilai apakah ekonomi benar-benar pulih jauh lebih penting daripada sekadar mengejar kenaikan harga saham — karena kenaikan yang didukung fundamental ekonomi adalah yang berkelanjutan.