Kita sekarang menghadapi situasi yang cukup ironis. Manusia telah menciptakan teleskop yang mampu mengamati galaksi, detektor yang dapat menangkap tabrakan partikel, perangkat yang bisa memindai gelombang otak... tetapi data yang dikumpulkan oleh alat-alat canggih ini akhirnya menjadi pulau-pulau terisolasi. Data dari satelit cuaca dan emosi media sosial sama sekali tidak cocok, sensor jaringan listrik tidak memahami kurva pandemi, berbagai sensor digital seperti ujung saraf yang terputus, masing-masing bekerja sendiri-sendiri.
Mengapa bisa begitu? Pada dasarnya, kita selalu menggunakan pendekatan terpusat—mengumpulkan semua data ke dalam satu gudang, lalu menunggu manusia untuk menelusuri dan menganalisisnya. Ini seperti setiap otot tubuh mengirimkan sinyal secara terpisah ke berbagai bagian otak, sehingga tidak pernah bisa berkoordinasi secara real-time. Hasilnya? Sekalipun data melimpah, tetap saja menjadi data mati.
Walrus Protocol yang digabungkan dengan Sui membentuk model " objek data yang dapat diprogram", tampaknya mencoba jalur lain. Mereka tidak ingin membangun otak yang menyembuhkan segala penyakit, melainkan merancang sebuah protokol agar setiap sumber data—baik sensor di sudut jalan maupun teleskop luar angkasa—dapat mengemas aliran data mereka menjadi "sel saraf" yang memiliki perilaku otonom dan antarmuka yang seragam. Sel-sel ini berinteraksi dan berkolaborasi secara mandiri dalam jaringan terdesentralisasi, akhirnya muncul kemampuan persepsi dan prediksi secara keseluruhan. Inilah seharusnya bentuk infrastruktur data yang ideal.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
14 Suka
Hadiah
14
4
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
wagmi_eventually
· 01-15 14:55
Data mati yang menumpuk menjadi pulau terpencil, masalah ini memang harus dicari solusinya
---
Gagasan sentralisasi adalah seperti mainan bertingkat, akhirnya data semuanya hanya sebagai pajangan
---
Model neuron Walrus terdengar cukup menarik, cuma tidak tahu nanti kalau dijalankan akan seperti apa
---
Pada dasarnya masih infrastruktur yang terlalu buruk, setiap departemen bekerja sendiri-sendiri
---
Gagasan ini benar, desentralisasi data dan koordinasi mandiri, tapi sulit direalisasikan seperti yang dibayangkan orang biasa
---
Rasanya masih seperti menggambar kue, tunggu sampai ada skenario aplikasi nyata baru bicara
---
Objek data yang dapat diprogram? terdengar menjanjikan tapi tidak yakin apakah benar-benar akan muncul kecerdasan
---
Masalah pulau data ini belum pernah terselesaikan, kali ini bisa berhasil? Agak berlebihan
---
Ekosistem Sui lagi-lagi melakukan pemasaran konsep, tapi kali ini logikanya memang cocok
---
Jaringan data desentralisasi dan organisasi mandiri, impian yang indah tapi kenyataannya seperti apa
Lihat AsliBalas0
probably_nothing_anon
· 01-15 14:54
Isolasi data ini memang tidak bisa ditahan lagi, ide jaringan saraf terdesentralisasi masih memiliki potensi.
Lihat AsliBalas0
BasementAlchemist
· 01-15 14:42
Terdengar cukup ideal, tapi akankah para raksasa besar melepaskan pegangan mereka dalam kenyataan,哈。
---
Sistem gudang data terpusat memang jalan buntu, tapi apakah Sui benar-benar bisa mengkoordinasikan sel-sel saraf?
---
Luar biasa, analogi ini keren banget, kita sekarang kayak sekumpulan sensor autisme.
---
Decentralisasi terdengar menyenangkan, tapi yang penting siapa yang akan bertanggung jawab atas "kemunculan" ini?
---
Masalah pulau data sudah dibahas bertahun-tahun, Walrus ini benar-benar inovasi atau cuma roda yang diputar ulang?
---
Saya cuma ingin tahu berapa banyak uang yang dibakar agar protokol ini berjalan, dan seberapa andalannya.
---
Analogi sel saraf cukup bagus, tapi akankah orang-orang Web3 ini bisa mengubah analogi biologi menjadi kenyataan? Atau cuma omong kosong.
Kita sekarang menghadapi situasi yang cukup ironis. Manusia telah menciptakan teleskop yang mampu mengamati galaksi, detektor yang dapat menangkap tabrakan partikel, perangkat yang bisa memindai gelombang otak... tetapi data yang dikumpulkan oleh alat-alat canggih ini akhirnya menjadi pulau-pulau terisolasi. Data dari satelit cuaca dan emosi media sosial sama sekali tidak cocok, sensor jaringan listrik tidak memahami kurva pandemi, berbagai sensor digital seperti ujung saraf yang terputus, masing-masing bekerja sendiri-sendiri.
Mengapa bisa begitu? Pada dasarnya, kita selalu menggunakan pendekatan terpusat—mengumpulkan semua data ke dalam satu gudang, lalu menunggu manusia untuk menelusuri dan menganalisisnya. Ini seperti setiap otot tubuh mengirimkan sinyal secara terpisah ke berbagai bagian otak, sehingga tidak pernah bisa berkoordinasi secara real-time. Hasilnya? Sekalipun data melimpah, tetap saja menjadi data mati.
Walrus Protocol yang digabungkan dengan Sui membentuk model " objek data yang dapat diprogram", tampaknya mencoba jalur lain. Mereka tidak ingin membangun otak yang menyembuhkan segala penyakit, melainkan merancang sebuah protokol agar setiap sumber data—baik sensor di sudut jalan maupun teleskop luar angkasa—dapat mengemas aliran data mereka menjadi "sel saraf" yang memiliki perilaku otonom dan antarmuka yang seragam. Sel-sel ini berinteraksi dan berkolaborasi secara mandiri dalam jaringan terdesentralisasi, akhirnya muncul kemampuan persepsi dan prediksi secara keseluruhan. Inilah seharusnya bentuk infrastruktur data yang ideal.