Saat Anda membeli Bitcoin (BTC) atau cryptocurrency lain di bursa terpusat (CEX), pesanan Anda biasanya masuk ke dalam buku pesanan publik di mana bursa mencocokkan pembeli dan penjual. Tetapi ada cara lain di mana perdagangan terjadi di balik layar—perdagangan silang (cross trading)—dan ini adalah sesuatu yang harus dipahami oleh setiap trader crypto.
Apa Sebenarnya Itu Cross Trading?
Cross trading terjadi ketika broker atau manajer portofolio secara langsung mencocokkan pesanan beli dan jual antara dua klien untuk aset cryptocurrency yang sama, tanpa mencatat transaksi tersebut di buku pesanan publik bursa. Dengan kata lain, broker bursa memfasilitasi pertukaran secara langsung antara dua akun di bawah pengelolaan mereka, menjaga transaksi sepenuhnya di luar catatan publik. Hanya broker yang terlibat yang mengetahui detailnya—tidak ada jejak yang terlihat di blockchain atau di antarmuka perdagangan bursa.
Ini secara fundamental berbeda dari perdagangan reguler, di mana setiap transaksi terlihat di buku pesanan dan berkontribusi pada volume perdagangan yang terlihat serta proses penemuan harga.
Bagaimana Sebenarnya Cara Kerja Cross Trading?
Mekanismenya sederhana. Ketika dua klien (atau pihak lawan dari bursa berbeda) perlu melakukan perdagangan aset yang sama, broker dapat mencocokkan mereka secara langsung. Alih-alih mengarahkan cryptocurrency melalui pasar publik, transfer dilakukan langsung antara kedua akun.
Misalnya, bayangkan Klien A ingin menjual 10 BTC sementara Klien B ingin membeli 10 BTC. Daripada memposting pesanan ini di buku pesanan publik bursa, broker dapat memfasilitasi transfer langsung antara akun mereka dengan harga yang disepakati—dan cryptocurrency berpindah secara instan tanpa menyentuh pasar publik.
Beberapa broker juga melakukan perdagangan silang di berbagai bursa dengan menemukan pihak lawan yang bersedia di platform berbeda. Karena tidak ada catatan buku pesanan publik yang merekam perdagangan ini, mekanisme transparansi standar tidak berlaku.
Mengapa Broker Menggunakan Cross Trading?
Daya tariknya jelas bagi pemain institusional. Cross trading lebih cepat dan lebih murah daripada perdagangan di buku pesanan tradisional. Tidak ada biaya bursa, dan karena cryptocurrency berpindah langsung antar akun, penyelesaian transaksi hampir instan. Broker tidak perlu khawatir tentang slippage atau menunggu pesanan besar mereka menurunkan harga pasar.
Yang lebih penting, cross trading meminimalkan dampak harga. Ketika Anda mencoba menjual jumlah besar crypto di buku pesanan publik, Anda sering kali mempengaruhi pasar secara negatif—harga turun saat pesanan jual besar tersebut terpenuhi. Cross trading menghindari hal ini sama sekali. Transaksi tetap tersembunyi, sehingga peserta pasar lain tidak pernah melihat kejutan pasokan.
Ini juga menjelaskan mengapa beberapa broker menggunakan cross trading untuk perdagangan arbitrase. Ketika harga cryptocurrency berbeda sedikit antar bursa, trader canggih dapat memanfaatkan ketidakefisienan ini dengan cepat memindahkan aset antar platform untuk menangkap spread—semua sambil menjaga posisi mereka tersembunyi dari pasar yang lebih luas.
Sisi Gelap: Risiko dan Kekhawatiran Nyata
Di sinilah cross trading menjadi kontroversial. Bendera merah terbesar adalah kurangnya transparansi. Karena Anda tidak melihat perdagangan silang di buku pesanan publik, Anda tidak memiliki jaminan bahwa Anda mendapatkan harga pasar terbaik. Anda harus percaya bahwa broker memberi Anda tarif yang adil dibandingkan dengan apa yang sebenarnya diperdagangkan di pasar terbuka.
Risiko counterparty juga menjadi kekhawatiran utama. Ketika perdagangan silang terjadi di luar bursa, Anda sepenuhnya bergantung pada broker atau manajer portofolio untuk mengeksekusi perdagangan secara jujur dan menjaga aset Anda aman. Tidak ada catatan publik untuk diaudit, dan tidak ada cap waktu blockchain untuk memverifikasi apa yang terjadi.
Kerahasiaan ini juga menciptakan titik buta bagi seluruh pasar. Kritikus berpendapat bahwa cross trading:
Mengaburkan dinamika penawaran dan permintaan yang sebenarnya
Menghalangi trader lain untuk bereaksi terhadap pergerakan pasar yang nyata
Secara teoretis dapat menyembunyikan aktivitas manipulasi pasar
Mengurangi transparansi pasar secara keseluruhan dan efisiensi penemuan harga
Regulator juga khawatir tentang hal ini. Banyak CEX melarang cross trading sama sekali karena alasan ini. Beberapa mengizinkan hanya jika broker segera melaporkan rincian transaksi lengkap untuk mematuhi regulasi keuangan setempat.
Perbedaan Cross Trades dan Block Trades: Apa Bedanya?
Block trades dan cross trades sering disalahartikan, tetapi mereka tidak sama. Block trades secara khusus melibatkan jumlah besar aset, biasanya antara klien institusional. Broker bernegosiasi terlebih dahulu tentang syaratnya dan kemudian mengeksekusi beberapa pesanan kecil untuk menghindari volatilitas harga yang besar.
Perbedaan utama: block trades harus dilaporkan ke regulator dan bursa untuk mematuhi hukum sekuritas. Cross trades mungkin atau mungkin tidak memerlukan pelaporan tergantung yurisdiksi dan kebijakan bursa.
Sebuah cross trade yang melibatkan volume sebesar institusional bisa secara teknis menjadi keduanya—cross trade dan block trade—tapi tidak semua cross trade termasuk kategori ini.
Cross Trading vs. Wash Trading: Benar-benar Berbeda
Jangan bingung antara cross trading dan wash trading. Wash trades adalah manipulasi pasar ilegal. Dalam wash trade, satu aktor (atau aktor yang berkoordinasi) mentransfer aset antar akun yang mereka kendalikan untuk secara artifisial meningkatkan volume perdagangan dan membingungkan pasar tentang penawaran dan permintaan nyata.
Wash trades ada semata-mata untuk menipu. Cross trades, sebaliknya, bisa memiliki tujuan yang sah—hanya saja mereka kurang transparan. Yang pertama adalah penipuan; yang kedua adalah praktik abu-abu yang beberapa regulator toleransi dan yang lain membatasi.
Kesimpulan Utama
Cross trading adalah praktik nyata di pasar crypto, terutama di kalangan trader institusional dan broker. Memahami cara kerjanya—dan kompromi transparansi yang terlibat—membantu Anda memahami mengapa tidak semua aktivitas perdagangan muncul di bursa publik. Bagi trader ritel, ini tetap aktivitas di balik layar, tetapi penting untuk diketahui bahwa pasar crypto mencakup lapisan aktivitas perdagangan yang terlihat dan tidak terlihat.
Intinya: sadari bahwa saat Anda memperdagangkan cryptocurrency, tidak setiap transaksi mengikuti aturan yang sama, dan tingkat transparansi bervariasi tergantung pada metode perdagangan yang digunakan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Memahami Perdagangan Lintas di Crypto: Apa yang Perlu Diketahui Trader
Saat Anda membeli Bitcoin (BTC) atau cryptocurrency lain di bursa terpusat (CEX), pesanan Anda biasanya masuk ke dalam buku pesanan publik di mana bursa mencocokkan pembeli dan penjual. Tetapi ada cara lain di mana perdagangan terjadi di balik layar—perdagangan silang (cross trading)—dan ini adalah sesuatu yang harus dipahami oleh setiap trader crypto.
Apa Sebenarnya Itu Cross Trading?
Cross trading terjadi ketika broker atau manajer portofolio secara langsung mencocokkan pesanan beli dan jual antara dua klien untuk aset cryptocurrency yang sama, tanpa mencatat transaksi tersebut di buku pesanan publik bursa. Dengan kata lain, broker bursa memfasilitasi pertukaran secara langsung antara dua akun di bawah pengelolaan mereka, menjaga transaksi sepenuhnya di luar catatan publik. Hanya broker yang terlibat yang mengetahui detailnya—tidak ada jejak yang terlihat di blockchain atau di antarmuka perdagangan bursa.
Ini secara fundamental berbeda dari perdagangan reguler, di mana setiap transaksi terlihat di buku pesanan dan berkontribusi pada volume perdagangan yang terlihat serta proses penemuan harga.
Bagaimana Sebenarnya Cara Kerja Cross Trading?
Mekanismenya sederhana. Ketika dua klien (atau pihak lawan dari bursa berbeda) perlu melakukan perdagangan aset yang sama, broker dapat mencocokkan mereka secara langsung. Alih-alih mengarahkan cryptocurrency melalui pasar publik, transfer dilakukan langsung antara kedua akun.
Misalnya, bayangkan Klien A ingin menjual 10 BTC sementara Klien B ingin membeli 10 BTC. Daripada memposting pesanan ini di buku pesanan publik bursa, broker dapat memfasilitasi transfer langsung antara akun mereka dengan harga yang disepakati—dan cryptocurrency berpindah secara instan tanpa menyentuh pasar publik.
Beberapa broker juga melakukan perdagangan silang di berbagai bursa dengan menemukan pihak lawan yang bersedia di platform berbeda. Karena tidak ada catatan buku pesanan publik yang merekam perdagangan ini, mekanisme transparansi standar tidak berlaku.
Mengapa Broker Menggunakan Cross Trading?
Daya tariknya jelas bagi pemain institusional. Cross trading lebih cepat dan lebih murah daripada perdagangan di buku pesanan tradisional. Tidak ada biaya bursa, dan karena cryptocurrency berpindah langsung antar akun, penyelesaian transaksi hampir instan. Broker tidak perlu khawatir tentang slippage atau menunggu pesanan besar mereka menurunkan harga pasar.
Yang lebih penting, cross trading meminimalkan dampak harga. Ketika Anda mencoba menjual jumlah besar crypto di buku pesanan publik, Anda sering kali mempengaruhi pasar secara negatif—harga turun saat pesanan jual besar tersebut terpenuhi. Cross trading menghindari hal ini sama sekali. Transaksi tetap tersembunyi, sehingga peserta pasar lain tidak pernah melihat kejutan pasokan.
Ini juga menjelaskan mengapa beberapa broker menggunakan cross trading untuk perdagangan arbitrase. Ketika harga cryptocurrency berbeda sedikit antar bursa, trader canggih dapat memanfaatkan ketidakefisienan ini dengan cepat memindahkan aset antar platform untuk menangkap spread—semua sambil menjaga posisi mereka tersembunyi dari pasar yang lebih luas.
Sisi Gelap: Risiko dan Kekhawatiran Nyata
Di sinilah cross trading menjadi kontroversial. Bendera merah terbesar adalah kurangnya transparansi. Karena Anda tidak melihat perdagangan silang di buku pesanan publik, Anda tidak memiliki jaminan bahwa Anda mendapatkan harga pasar terbaik. Anda harus percaya bahwa broker memberi Anda tarif yang adil dibandingkan dengan apa yang sebenarnya diperdagangkan di pasar terbuka.
Risiko counterparty juga menjadi kekhawatiran utama. Ketika perdagangan silang terjadi di luar bursa, Anda sepenuhnya bergantung pada broker atau manajer portofolio untuk mengeksekusi perdagangan secara jujur dan menjaga aset Anda aman. Tidak ada catatan publik untuk diaudit, dan tidak ada cap waktu blockchain untuk memverifikasi apa yang terjadi.
Kerahasiaan ini juga menciptakan titik buta bagi seluruh pasar. Kritikus berpendapat bahwa cross trading:
Regulator juga khawatir tentang hal ini. Banyak CEX melarang cross trading sama sekali karena alasan ini. Beberapa mengizinkan hanya jika broker segera melaporkan rincian transaksi lengkap untuk mematuhi regulasi keuangan setempat.
Perbedaan Cross Trades dan Block Trades: Apa Bedanya?
Block trades dan cross trades sering disalahartikan, tetapi mereka tidak sama. Block trades secara khusus melibatkan jumlah besar aset, biasanya antara klien institusional. Broker bernegosiasi terlebih dahulu tentang syaratnya dan kemudian mengeksekusi beberapa pesanan kecil untuk menghindari volatilitas harga yang besar.
Perbedaan utama: block trades harus dilaporkan ke regulator dan bursa untuk mematuhi hukum sekuritas. Cross trades mungkin atau mungkin tidak memerlukan pelaporan tergantung yurisdiksi dan kebijakan bursa.
Sebuah cross trade yang melibatkan volume sebesar institusional bisa secara teknis menjadi keduanya—cross trade dan block trade—tapi tidak semua cross trade termasuk kategori ini.
Cross Trading vs. Wash Trading: Benar-benar Berbeda
Jangan bingung antara cross trading dan wash trading. Wash trades adalah manipulasi pasar ilegal. Dalam wash trade, satu aktor (atau aktor yang berkoordinasi) mentransfer aset antar akun yang mereka kendalikan untuk secara artifisial meningkatkan volume perdagangan dan membingungkan pasar tentang penawaran dan permintaan nyata.
Wash trades ada semata-mata untuk menipu. Cross trades, sebaliknya, bisa memiliki tujuan yang sah—hanya saja mereka kurang transparan. Yang pertama adalah penipuan; yang kedua adalah praktik abu-abu yang beberapa regulator toleransi dan yang lain membatasi.
Kesimpulan Utama
Cross trading adalah praktik nyata di pasar crypto, terutama di kalangan trader institusional dan broker. Memahami cara kerjanya—dan kompromi transparansi yang terlibat—membantu Anda memahami mengapa tidak semua aktivitas perdagangan muncul di bursa publik. Bagi trader ritel, ini tetap aktivitas di balik layar, tetapi penting untuk diketahui bahwa pasar crypto mencakup lapisan aktivitas perdagangan yang terlihat dan tidak terlihat.
Intinya: sadari bahwa saat Anda memperdagangkan cryptocurrency, tidak setiap transaksi mengikuti aturan yang sama, dan tingkat transparansi bervariasi tergantung pada metode perdagangan yang digunakan.