Berita tahun 2025 yang tidak diinginkan oleh siapa pun di Cupertino tetap datang juga. Apple mengumumkan pembukaan iOS ke toko alternatif di Jepang, sesuai dengan Mobile Software Competition Act (MSCA). Langkah ini bukanlah pilihan sukarela dari raksasa teknologi tersebut, melainkan respons paksa terhadap tekanan regulasi di salah satu pasar terpentingnya.
Perkembangan ini di Jepang berlangsung dalam konteks global di mana Apple kehilangan pertempuran demi pertempuran. Di Eropa, Digital Markets Act (DMA) telah memaksa perusahaan untuk melakukan konsesi serupa. Di Amerika Serikat, putusan dalam kasus Epic Games melawan Apple telah memaksa perubahan signifikan pada sistem pembayaran di iOS. Sekarang giliran pasar Jepang.
Arsitektur Apple untuk Membatasi Kerusakan
Apple tidak menyerah tanpa perlawanan. Untuk mengelola pembukaan ke toko alternatif, mereka menerapkan proses “Notarisasi” yang dikembangkan bersama otoritas regulasi Jepang. Sistem ini dipresentasikan sebagai perlindungan terhadap malware, penipuan, dan konten tidak pantas, terutama untuk anak-anak. Namun, struktur ini juga merupakan mekanisme canggih untuk mengendalikan aliran aplikasi alternatif.
Yang lebih penting lagi, Apple telah menyusun model tarif yang kompleks. Pengembang yang menggunakan sistem pembayaran pihak ketiga tetap harus membayar komisi sebesar 21% kepada Apple. Ini adalah pendekatan yang sama yang diterapkan di Eropa: secara tampak mempertahankan prinsip hukum sambil menjaga margin keuntungan melalui komisi alternatif.
Tim Sweeney dan Epic Games: Penolakan yang Tegas
Tim Sweeney, CEO Epic Games, tidak menerima solusi kompromi ini. Ia secara terbuka menyatakan bahwa Fortnite tidak akan kembali ke iOS di Jepang pada tahun 2025, tepat karena struktur tarif yang disusun oleh Apple.
Di X, Sweeney menandai pengumuman Apple sebagai “parodi hambatan lain” yang tidak menghormati otoritas Jepang. Pejabat Epic Games ini menyoroti kontras dengan perilaku penyedia lain seperti Microsoft, menyarankan bahwa tidak ada penyedia platform game yang akan memberlakukan batasan pembayaran yang begitu ketat. Menurut Sweeney, Apple telah “memilih dengan buruk” sekali lagi.
Implikasi Pasar
Situasi di Jepang ini kemungkinan besar mengantisipasi perkembangan global di masa depan. Pengembang memiliki waktu hingga 17 Maret 2026 untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan baru program pengembang Apple, yang akan mencakup opsi khusus untuk pasar Jepang.
Tantangan utama bagi Apple bukan hanya mematuhi regulasi anti-monopoli; tetapi melakukannya tanpa mengorbankan secara signifikan pendapatan dari App Store, yang tetap menjadi sumber keuntungan penting bagi perusahaan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
App Store di bawah tekanan: Jepang memaksa Apple untuk perubahan radikal
Berita tahun 2025 yang tidak diinginkan oleh siapa pun di Cupertino tetap datang juga. Apple mengumumkan pembukaan iOS ke toko alternatif di Jepang, sesuai dengan Mobile Software Competition Act (MSCA). Langkah ini bukanlah pilihan sukarela dari raksasa teknologi tersebut, melainkan respons paksa terhadap tekanan regulasi di salah satu pasar terpentingnya.
Perkembangan ini di Jepang berlangsung dalam konteks global di mana Apple kehilangan pertempuran demi pertempuran. Di Eropa, Digital Markets Act (DMA) telah memaksa perusahaan untuk melakukan konsesi serupa. Di Amerika Serikat, putusan dalam kasus Epic Games melawan Apple telah memaksa perubahan signifikan pada sistem pembayaran di iOS. Sekarang giliran pasar Jepang.
Arsitektur Apple untuk Membatasi Kerusakan
Apple tidak menyerah tanpa perlawanan. Untuk mengelola pembukaan ke toko alternatif, mereka menerapkan proses “Notarisasi” yang dikembangkan bersama otoritas regulasi Jepang. Sistem ini dipresentasikan sebagai perlindungan terhadap malware, penipuan, dan konten tidak pantas, terutama untuk anak-anak. Namun, struktur ini juga merupakan mekanisme canggih untuk mengendalikan aliran aplikasi alternatif.
Yang lebih penting lagi, Apple telah menyusun model tarif yang kompleks. Pengembang yang menggunakan sistem pembayaran pihak ketiga tetap harus membayar komisi sebesar 21% kepada Apple. Ini adalah pendekatan yang sama yang diterapkan di Eropa: secara tampak mempertahankan prinsip hukum sambil menjaga margin keuntungan melalui komisi alternatif.
Tim Sweeney dan Epic Games: Penolakan yang Tegas
Tim Sweeney, CEO Epic Games, tidak menerima solusi kompromi ini. Ia secara terbuka menyatakan bahwa Fortnite tidak akan kembali ke iOS di Jepang pada tahun 2025, tepat karena struktur tarif yang disusun oleh Apple.
Di X, Sweeney menandai pengumuman Apple sebagai “parodi hambatan lain” yang tidak menghormati otoritas Jepang. Pejabat Epic Games ini menyoroti kontras dengan perilaku penyedia lain seperti Microsoft, menyarankan bahwa tidak ada penyedia platform game yang akan memberlakukan batasan pembayaran yang begitu ketat. Menurut Sweeney, Apple telah “memilih dengan buruk” sekali lagi.
Implikasi Pasar
Situasi di Jepang ini kemungkinan besar mengantisipasi perkembangan global di masa depan. Pengembang memiliki waktu hingga 17 Maret 2026 untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan baru program pengembang Apple, yang akan mencakup opsi khusus untuk pasar Jepang.
Tantangan utama bagi Apple bukan hanya mematuhi regulasi anti-monopoli; tetapi melakukannya tanpa mengorbankan secara signifikan pendapatan dari App Store, yang tetap menjadi sumber keuntungan penting bagi perusahaan.