Pasar minyak melakukan pemulihan pada hari Jumat, dengan para trader bernapas lega setelah penjualan tajam pada sesi sebelumnya yang dipicu oleh meredanya ketegangan antara AS dan Iran. Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,9 persen, menetap di $64,33 per barel, sementara WTI naik dengan margin yang sama untuk ditutup di $59,73. Pemulihan ini terjadi setelah kedua tolok ukur mengalami kerugian lebih dari 4 persen pada hari Kamis.
Apa yang Memicu Pembalikan Ini?
Titik balik ini berpusat pada perubahan retorika dari Washington. Presiden Trump memberi sinyal pendekatan yang lebih berhati-hati terkait Iran, menyatakan bahwa pembunuhan telah berhenti dan eksekusi terhadap demonstran Iran telah dihentikan. Sikap hati-hati ini sementara mendinginkan ketakutan pasar tentang potensi eskalasi militer yang dapat mengancam pasokan minyak global. Gangguan pasokan semacam ini adalah hal yang paling ditakuti para trader minyak, karena dapat menyebabkan harga melambung tinggi.
Namun, optimisme ini terbukti singkat. Di Dewan Keamanan PBB, duta besar Amerika Serikat menegaskan kembali posisi keras, menyatakan bahwa “semua opsi ada di atas meja” untuk menangani situasi tersebut. Pesan yang campur aduk ini membuat para trader tidak yakin tentang arah kebijakan AS yang sebenarnya—sebuah skenario klasik untuk fluktuasi harga yang volatil.
Gambaran Greenland Eropa Menambah Tekanan Baru
Secara bersamaan, kekhawatiran muncul tentang Greenland, di mana anggota NATO Eropa mengumumkan penempatan pasukan militer setelah negosiasi yang gagal antara Denmark dan pejabat AS. Dimensi territorial ini memperkenalkan lapisan kompleksitas geopolitik lainnya. Ketika beberapa faktor risiko bersamaan, pasar minyak biasanya bereaksi dengan menilai kembali apakah rantai pasokan saat ini tetap aman.
Apa Artinya Ini bagi Para Trader
Penurunan tajam pasar minyak diikuti oleh pemulihan parsial mencerminkan ketidakpastian mendasar yang melanda pasar energi. Dengan ketegangan Iran yang terus memanas dan kekuatan NATO yang memposisikan ulang di Kutub Utara, harga minyak mentah tetap menjadi sandera perkembangan politik daripada didorong oleh fundamental penawaran dan permintaan tradisional. Sampai kejelasan muncul dari kedua front, diharapkan volatilitas akan terus berlanjut saat para trader menimbang risiko bersaing terhadap stabilitas energi global.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kenaikan Harga Minyak Mentah Berlanjut Seiring Meredanya Kekhawatiran Geopolitik—Tapi Sampai Kapan?
Pasar minyak melakukan pemulihan pada hari Jumat, dengan para trader bernapas lega setelah penjualan tajam pada sesi sebelumnya yang dipicu oleh meredanya ketegangan antara AS dan Iran. Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,9 persen, menetap di $64,33 per barel, sementara WTI naik dengan margin yang sama untuk ditutup di $59,73. Pemulihan ini terjadi setelah kedua tolok ukur mengalami kerugian lebih dari 4 persen pada hari Kamis.
Apa yang Memicu Pembalikan Ini?
Titik balik ini berpusat pada perubahan retorika dari Washington. Presiden Trump memberi sinyal pendekatan yang lebih berhati-hati terkait Iran, menyatakan bahwa pembunuhan telah berhenti dan eksekusi terhadap demonstran Iran telah dihentikan. Sikap hati-hati ini sementara mendinginkan ketakutan pasar tentang potensi eskalasi militer yang dapat mengancam pasokan minyak global. Gangguan pasokan semacam ini adalah hal yang paling ditakuti para trader minyak, karena dapat menyebabkan harga melambung tinggi.
Namun, optimisme ini terbukti singkat. Di Dewan Keamanan PBB, duta besar Amerika Serikat menegaskan kembali posisi keras, menyatakan bahwa “semua opsi ada di atas meja” untuk menangani situasi tersebut. Pesan yang campur aduk ini membuat para trader tidak yakin tentang arah kebijakan AS yang sebenarnya—sebuah skenario klasik untuk fluktuasi harga yang volatil.
Gambaran Greenland Eropa Menambah Tekanan Baru
Secara bersamaan, kekhawatiran muncul tentang Greenland, di mana anggota NATO Eropa mengumumkan penempatan pasukan militer setelah negosiasi yang gagal antara Denmark dan pejabat AS. Dimensi territorial ini memperkenalkan lapisan kompleksitas geopolitik lainnya. Ketika beberapa faktor risiko bersamaan, pasar minyak biasanya bereaksi dengan menilai kembali apakah rantai pasokan saat ini tetap aman.
Apa Artinya Ini bagi Para Trader
Penurunan tajam pasar minyak diikuti oleh pemulihan parsial mencerminkan ketidakpastian mendasar yang melanda pasar energi. Dengan ketegangan Iran yang terus memanas dan kekuatan NATO yang memposisikan ulang di Kutub Utara, harga minyak mentah tetap menjadi sandera perkembangan politik daripada didorong oleh fundamental penawaran dan permintaan tradisional. Sampai kejelasan muncul dari kedua front, diharapkan volatilitas akan terus berlanjut saat para trader menimbang risiko bersaing terhadap stabilitas energi global.