Per Februari 2026, pasar sedang mengalami salah satu "gempa likuiditas" terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Untuk memahami mengapa emas dan Bitcoin—yang biasanya diharapkan berfungsi sebagai alternatif atau bergerak berlawanan arah—berkinerja menurun secara bersamaan, perlu memeriksa tiga gelombang utama yang terjadi jauh di dalam sistem keuangan. 1. Krisis Likuiditas dan Era "Cash is King" Alasan utama di balik penurunan saat ini bukanlah kehilangan kepercayaan terhadap nilai intrinsik aset-aset ini, melainkan kebutuhan mendesak akan uang tunai. Ketidakstabilan pasar secara umum telah menempatkan dana besar dan investor di bawah tekanan "margin call". Dalam situasi seperti ini, institusi tidak mempertimbangkan apa yang ingin mereka jual, melainkan apa yang bisa mereka jual dengan cepat. Karena likuiditasnya yang tinggi, emas dan Bitcoin menjadi aset "korban" pertama selama masa krisis ini. Dengan kata lain, aset "benteng" utama ini dilikuidasi untuk menutup kerugian di saham atau posisi lainnya. 2. The "Hawkish" Fed dan Kekuatan Dolar Penunjukan figur seperti Kevin Warsh, yang mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat, sebagai Ketua Fed secara tiba-tiba memutus harapan akan "uang murah" di pasar. Imbal hasil obligasi yang meningkat telah mengurangi daya tarik emas, yang tidak menawarkan bunga, dan Bitcoin, yang berkembang berdasarkan selera risiko, dalam jangka pendek. Penguatan cepat dolar AS terhadap mata uang lain telah menciptakan tekanan ke bawah pada harga komoditas dan aset digital. 3. Saturasi Spekulatif dan Koreksi Teknis Pada akhir Januari, saat emas mendekati $5.500 dan Bitcoin mendekati level rekor, muncul kondisi "overbought" yang parah di pasar. Penarikan tajam yang terlihat pada kedua aset ini pada dasarnya adalah fase "pembersihan" setelah pertumbuhan yang tidak sehat. Analis menekankan bahwa penurunan saham pertambangan emas, khususnya, berasal dari ketakutan pasar secara umum daripada biaya operasional. Singkatnya; penurunan simultan ini adalah hasil dari deleveraging dalam sistem keuangan global dan dorongan untuk mengumpulkan uang tunai, bukan dari penurunan nilai fundamental aset itu sendiri.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
#WhyAreGoldStocksandBTCFallingTogether?
Per Februari 2026, pasar sedang mengalami salah satu "gempa likuiditas" terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Untuk memahami mengapa emas dan Bitcoin—yang biasanya diharapkan berfungsi sebagai alternatif atau bergerak berlawanan arah—berkinerja menurun secara bersamaan, perlu memeriksa tiga gelombang utama yang terjadi jauh di dalam sistem keuangan.
1. Krisis Likuiditas dan Era "Cash is King"
Alasan utama di balik penurunan saat ini bukanlah kehilangan kepercayaan terhadap nilai intrinsik aset-aset ini, melainkan kebutuhan mendesak akan uang tunai. Ketidakstabilan pasar secara umum telah menempatkan dana besar dan investor di bawah tekanan "margin call". Dalam situasi seperti ini, institusi tidak mempertimbangkan apa yang ingin mereka jual, melainkan apa yang bisa mereka jual dengan cepat. Karena likuiditasnya yang tinggi, emas dan Bitcoin menjadi aset "korban" pertama selama masa krisis ini. Dengan kata lain, aset "benteng" utama ini dilikuidasi untuk menutup kerugian di saham atau posisi lainnya.
2. The "Hawkish" Fed dan Kekuatan Dolar
Penunjukan figur seperti Kevin Warsh, yang mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat, sebagai Ketua Fed secara tiba-tiba memutus harapan akan "uang murah" di pasar. Imbal hasil obligasi yang meningkat telah mengurangi daya tarik emas, yang tidak menawarkan bunga, dan Bitcoin, yang berkembang berdasarkan selera risiko, dalam jangka pendek. Penguatan cepat dolar AS terhadap mata uang lain telah menciptakan tekanan ke bawah pada harga komoditas dan aset digital.
3. Saturasi Spekulatif dan Koreksi Teknis
Pada akhir Januari, saat emas mendekati $5.500 dan Bitcoin mendekati level rekor, muncul kondisi "overbought" yang parah di pasar. Penarikan tajam yang terlihat pada kedua aset ini pada dasarnya adalah fase "pembersihan" setelah pertumbuhan yang tidak sehat. Analis menekankan bahwa penurunan saham pertambangan emas, khususnya, berasal dari ketakutan pasar secara umum daripada biaya operasional.
Singkatnya; penurunan simultan ini adalah hasil dari deleveraging dalam sistem keuangan global dan dorongan untuk mengumpulkan uang tunai, bukan dari penurunan nilai fundamental aset itu sendiri.