Harga Emas Dibayangi Sentimen Geopolitik, Begini Proyeksinya ke Depan



Harga emas diproyeksi bergerak fluktuatif karena dipengaruhi sentimen geopolitik. Mengutip Trading Economics, Kamis (9/4/2026) pukul 17.15 WIB, harga emas global di level US$ 4.724 per troi ons, naik 9,35% secara year to date (ytd). Namun, terkoreksi 8,97% secara mingguan.

Tiffani Safinia, Research & Development ICDX mengatakan, harga emas terkoreksi karena tertekan aksi profit taking setelah reli dalam dua hari sebelumnya. Tekanan tambahan datang dari kembali meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, menyusul pernyataan Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf yang menyebut adanya pelanggaran kesepakatan gencatan senjata oleh pihak AS dan sekutunya. Hal ini setelah Israel menyerang Lebanon.

“Ketegangan ini kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan proses negosiasi damai, serta meningkatkan risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak pada stabilitas global,” ujar Tiffani kepada Kontan, Kamis (9/4/2026).

Analis Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, serangan Israel ke Lebanon menimbulkan ketegangan terbaru di Kawasan Timur Tengah. Hal ini diperkirakan akan membuat harga emas fluktuatif.

Di satu sisi pembukaan Selat Hormuz diprediksi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan arus transportasi seperti biasanya. Adanya pungutan yang dikenakan untuk melintasi Selat Hormuz juga berpotensi meningkatkan biaya transportasi pengangkutan minyak mentah.

“Harga emas secara jangka pendek masih fluktuatif tapi memasuki jangka menengah di kuartal II – 2026 kemungkinan harga emas akan stabil,” ucap Ibrahim.

Lebih lanjut Ibrahim mengatakan bahwa faktor yang mendongkrak harga emas naik bukan hanya faktor geopolitik saja. Akan tetapi ada beberapa faktor – faktor lain. Di antaranya potensi perang dagang AS dengan Uni Eropa karena Uni Eropa tidak membantu AS menyerang Iran.

Perang dagang AS dengan Chinajuga masih belum ada satu keputusan pasti, sehingga pada Mei diperkirakan akan ada ketegangan dagang kembali antara AS – Tiongkok. Selanjutnya, faktor permintaan – penawaran emas. Ibrahim melihat dalam kondisi saat ini bank sentral global kembali membeli logam mulia sebagai salah satu upaya mengurangi eksposur terhadap dolar AS. “Sehingga ini akan mengangkat harga emas mengalami lonjakan,” terang Ibrahim.

Lalu, Ibrahim menyebut bahwa arah kebijakan bank sentral AS juga menjadi salah satu faktor penentu arah harga emas. Termasuk pergantian Ketua The Fed dari Jerome Powell ke Kevin Warsh.

Tiffani mengatakan, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve kembali mengalami penyesuaian dengan probabilitas penurunan suku bunga pada akhir 2026 kini diperkirakan kurang dari 33%. Perubahan ekspektasi ini terjadi seiring meningkatnya risiko inflasi akibat dinamika harga energi, meskipun sebelumnya sempat mereda.

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan akan tetap volatil, dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah serta arah kebijakan moneter global. Pasar akan mencermati rilis data inflasi AS seperti Consumer Price Index (CPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE), serta risalah FOMC untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut terkait kebijakan suku bunga. Selain itu, pergerakan harga minyak dan dinamika dolar AS akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah emas.

Terkait strategi yang bisa dilakukan terkait emas, Tiffani mengatakan dalam jangka pendek, pelaku pasar dapat memantau perkembangan dinamika geopolitik dan rilis data ekonomi seperti data Consumer Price Index (CPI), data Personal Consumption Expenditures (PCE), dan data Nonfarm Payrolls.

Sedangkan untuk jangka menengah dan panjang, tren emas masih didukung oleh permintaan bank sentral dan ketidakpastian global yang berlanjut. Emas dinilai masih relevan sebagai instrumen lindung nilai, sehingga akumulasi bertahap dapat menjadi pilihan. Diversifikasi portofolio juga tetap menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan risiko.

Tiffani memperkirakan harga emas global pada kuartal II – 2026 bergerak di kisaran US$ 4.700 – US$ 5.100 per troy ons seiring kombinasi antara ekspektasi pelonggaran moneter dan risiko geopolitik yang masih fluktuatif. Sementara Ibrahim memproyeksikan harga logam mulia berkisar Rp 2.830.000 sampai Rp 3.200.000 per gram.
#FDICReleasesStablecoinGuidanceDraft
#MetaReleasesMuseSpark
#GateSquareAprilPostingChallenge
#USIranCeasefireTalksFaceSetbacks
post-image
post-image
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • 3
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
ETHERNATEvip
· 1jam yang lalu
keren
Lihat AsliBalas0
SendiKurniawanvip
· 6jam yang lalu
waw bagus banget insiden
Balas1
Lihat Lebih Banyak
  • Sematkan